Tampilkan postingan dengan label paper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paper. Tampilkan semua postingan

TSUNAMI : Fenomena atau Bencana Alam?

TSUNAMI : Fenomena atau Bencana Alam?

“ ….the devastation is tremendous,
and we can’t describe it adequetly……
Capt. Kendall Card – USS Abraham Lincoln”

    Tsunami (dibaca: tsoo-NAH-mee) adalah gelombang transien yang disebabkan oleh gempa tektonik ataupun oleh letusan gunung berapi. Tsunami adalah asal kata dari bahasa Jepang dimana artinya gelombang yang sering terjadi di daerah-daerah pelabuhan di pantai Jepang (Tsu = Pelabuhan dan Nami = gelombang) dan bukan apa yang sering diartikan oleh kebanyakan orang sebagai “tidal waves” (Vasily Titov, 2004). Tsunami memiliki perioda gelombang di antara 10 sampai dengan 60 menit. Bila penyebab Tsunami adalah letusan gunung berapi (seperti yang terjadi di gunung Krakatau) maka gangguannya terjadi pada permukaan, dan apabila penyebabnya adalah gempa tektonik (Aceh dan Nias) maka gangguannya terjadi pada dasar laut. Gangguan pada dasar laut inilah yang sering terjadi
 Tsunami, Indonesia sendiri adalah merupakan alur dari kagiatan tektonik, yang mana dokumentasi terjadi Tsunami sendiri masih langka dan sangat jarang terekam oleh para peneliti, contoh seperti terjadi sekarang ini di Aceh dan Sumatera Utara. Terlululantahkan oleh goncangan Gempa berskala 8,5 pada skala Richter (8.9 moment magnitude), lebih tepat lagi terjadi di pulau Sumatera pada Minggu pagi 26 Desember 2004 jam 06:58:50 AM sungguh dasyat memang Asia Tenggara dan Asia Selatan terguncang oleh gempa ini, sampai goncangan ini terasa di Somalia, Afrika Timur yang jaraknya 6000 Kilometer dari Epicenter Gempa!!. Apakah kita pernah berpikir kehancuran gempa ini samadengan kekuatan tenaga yang dilepaskan oleh 32 megaton peledak trinitrotoluena atau TNT?. Sampai saa ini belum ada teknologi yang “sophisticated” mampu memprediksi gempa yang terjadi. Akan tetapi, banyak teori yang bercerita dan menguraikan terjadinya Tsunami yang diakibatkan oleh gempa, ironi memang kajian teoritis mengenai Tsunami sudah banyak yang dilakukan dan di Jepang sudah bukan bahan yang baru lagi. Mengapa Tsunami bisa terjadi? Gempa adalah awal sehingga terjadi Tsunami dimana adanya perpindahan energi gempa ke fluida (cairan bergerak), di dalam fluida, energi ini diubah menjadi gerakan fluida berupa gelombang. Gelombang yang terbentuk ini tergantung dari besarnya energi gempa, sehingga dengan penurunan beberapa pendekatan numeris bisa diketahui energi Tsunami yang terjadi. Pendekatan yang sering digunakan adalah dengan skala Imamura (m), dimana dengan mengetahui besar m (imamura scale) maka kita bisa mengetahui tinggi gelombang yang terjadi serta luasan daya hancur yang diakibatkannya. Adalah Fluida apabila kita menganggap fluida itu ideal maka dia akan bersifat inviscid, tidak berotasi dan tidak mampu mampat. Untuk itu, berlakulah apa yang disebut aliran potensial sehingga dapat didefinisikan sebagai kecepatan potensial. Asumsi umum menyebutkan bahwa gempa yang kurang dari 6 skala ritcher tidak akan menimbulkan kerusakan berarti akibat Tsunami. Perlu juga diketahui bahwa epicenter terhadap pantai juga menentukan terhadap tinggi gelombang Tsunami. Besarnya energi Tsunami diperkirakan 10% dari energi gempa. Analisa numerik mengacu pada contoh sebagai berikut; bila diketahui M = 7.0 m (magnitude) maka m (imamura) = 1.83 dan T (period) = 13.8 menit; maka dari tabel imamura diperkirakan tinggi gelombang yang terjadi adalah 3 meter di pusat gempa dan akan menjalar menuju perairan yang lebih dangkal.
    Asumsi awal ini tentunya belumlah valid karena perlu diperhitunkan lagi dengan energi terjadinya gempa yang dikonversikan dengan energi Tsunami yang terbentuk serta menjalar untuk mencapai pantai. Tidak mudah memang, akan tetapi ini perlu kita perjelas bahwa dari berbagai macam kejadian, tanda-tanda fenomena alam yang berubah secara tiba-tiba patut kita waspadai, dimana tanda utama akan terjadinya Tsunami adalah gempa yang besar serta air tiba-tiba surut secara tidak normal.
     Gelombang Tsunami secara significant menyebabkan beberapa pulau besar atau kecil akan mengalami kerusakan parah, akibat besarnya gempa dan gelombang Tsunami yang terjadi. Perbandingannya dapat digambarkan bahwa, Tsunami yang terjadi tidaklah seperti gelombang yang dibangkitkan oleh angin (wind generated waves), yang sering dan setiap waktu menghantam wilayah pesisir secara periodik, dimana gelombang ini mempunyai tinggi, panjang dan perioda bervariasi setiap waktunya. Angin yang membangkitkan gelombang dari daerah lepas pantai (swell), akan menuju pantai dan apabila diikuti oleh badai (storm) maka gelombang akan membesar dan menggulung mengikuti model topografi dasar laut serta kecepatan angin yang menghembuskanya, biasanya kecepatan gelombang bervariasi antara 10 detik sampai dengan gelombang panjang 150 menit. Seperti juga proses terjadinya Tsunami mempunyai panjang gelombang tetapi panjangnya akan mencapai sekitar 100 km dan memiliki kecepatan gelombang antara 200 m/det sampai dengan 700 km/jam, seperti pernah terjadi di Samudera Pacifik pada kedalaman 4000 m (Wikipedia Encylopedia, 2004). Selanjutnya oleh Global Security, 2004 membagi beberapa model matematis hubungan antara kecepatan jalar gelombang (wave celerity) dan tinggi Tsunami yang terjadi pada beberapa kedalaman laut. Ada dua teori yang mendukung bahwa kejadian di atas yaitu :

1.Transformasi akibat perubahan Lebar dan kedalaman suatu perairan (h/ho dan b/bo), bila Tsunami melintasi alur yang sempit seperti selat, sungai, ataupun teluk yang panjang, amplitudo Tsunami akan mengalami perubahan, seperti energi gelombang (wave energy) akan membesar akibat bathimetri lahan dan gelombang pecah (wave breaking) akan meninggi di daerah pantai.
2.Run-Up (H/R dan R/H), adalah akumulasi energi yang terjadi pada dinding miring yang mengakibatkan pembesaran tinggi gelombang. Run-Up ini terjadi saat gelombang mencapai pantai. Tinggi gelombang tergantung dari model kemiringan lahan (topografi), tinggi gelombang (H) dan panjang gelombang (L).

    Penjabaran dari dua teori tersebut ini adalah umum digunakan di dalam bidang rekayasa pantai untuk menduga dinamika air laut . Mekanisme kerja gelombang Tsunami dapat dimodelkan dengan pendekatan numeris untuk meramalkan terjadinya gelombang di daerah bahaya Tsunami. Oleh karena itu, data-data tentang pasang surut dan topografi pantai sangat penting di dalam mengevaluasi keadaan pesisir disamping dukungan data tentang besaran kekuatan gempa yang terjadi.
 
   Cara yang efektif adalah dengan melatih penduduk dalam menghadapi Tsunami dan menghindarkan pembangunan konstruksi di daerah yang sering diserang Tsunami. Cara-cara yang dianjurkan untuk menghadapi Tsunami adalah :

1.relokasi daerah pemukiman
2.membuat jalan atau llintasan untuk melarikan diri dari Tsunami
3.melakukan latihan pengungsian
4.menanami daerah pantai dengan tanaman (bakau/mangrove) yang secara efektif dapat menyerap energi gelombang
5.membiarkan lapangan terbuka untuk menyerap energi Tsunami
6.membuat dike ataupun breakwater di daerah yang memungkinkan
7.membuat suatu sistem peringatan dini (early warning sistem)

    Ini merupakan langkah-langkah praktis dalam meminimalisasi gelombang Tsunami yang terjadi tentu bukan hal yang mudah karena pada umumnya di dalam penerapan tahapan ini haruslah di sokong oleh perencanaan sistematis di dalam perencanaan kota. Akan menjadi
sulit memang dikarenakan hampir semua kota pesisir di Indonesia lebih khusus lagi di Sulawesi Utara belum mempunyai platform kota dalam menghadapi gelombang Tsunami, dan ini jelas bahwa kita masih terkonsentrasi di dalam menata ruang publik untuk kepentingan bisnis semata dan belum memperhatikan aspek-aspek yang berhubungan dengan keselamatan ruang publik tersebut apalagi nyawa manusia.



Download - .pdf version
Right click and save target as.



ASI : Antara Iptek dan Al Quran

Dulu dunia kesehatan meyakini, ASI hanya berpengaruh kepada bayi dari sisi kejiwaan dan tidak ada pengaruh positif lain. Setelah dilakukan penelitian selama setengah abad, ditemukan ribuan manfaat ASI. Zat immunoglobulins ditemukan pertama kali pada ASI. Zat ini berfungsi sebagai anti bodi, anti bakteri dan virus dengan berbagai macam jenisnya. Immunoglobulins berfungsi juga membantu bayi selama bulan-bulan pertama dalam menguatkan tulang tengkorak yang sering mengalami guncangan dan benturan

Lebih dari itu, ASI mengandung zat mucins yang memuat banyak protein dan karbohidrat. Zat inilah yang mensterilkan tubuh bayi dari bakteri secara total tanpa efek samping, berbeda dengan obat-obatan kimia.


Para ahli menemukan jumlah bakteri dalam lambung bayi yang minum dari susu sapi lebih banyak 10 kali lipat dari bakteri dalam lambung bayi yang mengkonsumsi ASI.


Di samping itu, kandungan protein dan glukosa alami dalam ASI jauh lebih besar di banding susu sapi dan lainnya. Suhu sehat ASI ketika keluar sesuai dengan kondisi bayi. Bahayanya, jumlah protein dalam susu sapi tidak bisa diserap dan dicerna oleh tubuh bayi yang di masa selanjutnya akan menimbulkan masalah kesehatan. Sebab protein ASI mampu diserap bayi dalam waktu 15 detik sementara susu sapi membutuhkan waktu 60 detik.


Ahli medis sepakat, ASI bersih dari bakteri dan makanan paling baik daripada susu buatan. Mereka menemukan, bayi yang mengonsumsi susu buatan meski dengan botol steril tetap akan mengalami banyak masalah kesehatan.

Semua rahasia-rahasia tersebut sudah diatur dan ditentukan oleh Allah sesuai dengan kadarnya. “dan dia Telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya,” (QS Al-Furqan: 2)


Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.

Ternyata begitu banyak nikmat dan karunia Allah yang tidak diketahui oleh manusia.


Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 34)


Masa Ideal Menyusui Bayi


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF menyatakan, masa ideal menyusui anak adalah dua tahun. Sebab selama dua tahun pertama itu, bayi sangat membutuhkan susu yang steril seperti ASI. Di samping itu, organ tubuhnya tidak mampu melawan penyakit yang menyerang selama dua tahun tersebut. Apalagi selama dalam kandungan, bayi banyak menggantungkan kepada zat-zat imun. Sehingga ketika lahir bayi harus terjaga dari faktor-faktor yang menyebabkan penyakit.

Dua tahun pertama usia bayi adalah masa krisis. Sebab merupakan masa pembentukan organ dan pertumbuhan. ASI adalah dimension of care di periode ini.


Kampanye ASI dari Al-Qur’an 14 abad lalu

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan,” (QS Al-Baqarah: 233).

Ada tiga kandungan dari ayat di atas; perintah Allah kepada para ibu untuk menyusui bayinya, penentuan periode ideal ASI yaitu dua tahun penuh, dan penegasan hal itu sebagai periode yang sempurna.

Ketika mengomentari ayat di atas dalam Fi Zhililalil Qur’an-nya, Sayyid Quthb mengatakan,” Allah mewajibkan untuk bayi atas ibunya agar menyusuinya selama dua tahun penuh. Sebab Allah mengetahui periode ini sebagai periode ideal dari sisi medis dan psikologi bayi. Penelitian kesehatan dan kejiwaan saat ini membuktikan bahwa dua tahun pertama adalah kebutuhan darurat bagi perkembangan anak secara sehat dari dua sisi tersebut.”

Jadi, ASI adalah karunia agung dari langit untuk setiap manusia pendatang baru di bumi.

Dr. Rose Laurens, ahli penyakit anak di Universitas Rocster New York menegaskan,’Wanita harus tahu bahwa ASI adalah makanan terbaik bayi. la mengandung zat immun khusus yang menjaga infeksi tengkorak. Zat ini tidak terdapat pada makanan lain. Meski teknologi demikian maju, tapi belum mampu memproduksi susu seperti ASI. Tak ada seorang baru di dunia yang tidak membutuhkan ASI.”


Tak heran, beberapa tahun belakangan, media massa medis di Eropa dan Amerika melakukan kampanye besar-besaran agar para ibu kembali kepada ASI untuk bayinya. Sayangnya, seruan ini tidak mendapatkan sambutan serius dari ibu-ibu. Pasalnya, perusahaan produksi susu buatan menguasai lembaga-lembaga urusan anak-anak. Propaganda besar-besaran dilakukan oleh perusahan itu untuk meyakinkan kaum ibu-ibu bahwa susu buatan mencukupi dari ASI.


Namun sejak 13 tahun terakhir, pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang melarang perusahaan produksi susu melakukan propaganda susu buatan. Sayang, WHiO mengeluarkan laporan, dunia ketiga saat ini masih menerima penggunaan susu buatan sementara di Eropa dan Amerika sudah menurun. lni yang menyebabkan banyak penyakit berbahaya bagi kesehatan anak¬anak.


Dalam artikelnya, Prof. Lorens mengatakan, “Meski teknologi kedokteran mencapai langkah besar dalam bidang makanan dan gizi, namun tetap tidak mampu meniru pembuatan ASI meskipun dalam bagian terkecil. Sebab ada 100 lebih enzim dalam ASI yang tidak ada dalam susu buatan,”

la menutup artikelnya dengan pernyataan,”Tidak ada di atas bumi ini makanan biologi yang mampu menggantikan ASI. la mampu mengamankan sel-sel hidup, enzim aktif, immunisasi terhadap infeksi dan manfaat¬manfaat kejiwaan lainnya,”


Dalam buku Breast is best Dr. Stanawy mengatakan, “Kanker payudara adalah penyakit paling banyak menyerang wanita. Selama dua dekade terakhir semakin banyak. Para ahli memperkirakan, satu dari 20 orang wanita di Barat mati karena serangan kanker payudara dan satu dari empat wanita mengeluhkan penyakit yang bersumber dari payudara. Diperkirakan hal ini terjadi karena kebanyakan wanita jaman sekarang enggan menyusui sebagai tugas alami.”


Manfaat ASI bagi bayi:

  1. Memberikan stabilitas psikologi, tenang dan tidur nyenyak.

  2. Menjaga bayi dari penyakit sensitilitas.

  3. Perbandingan dengan susu sapi dari kemungkinan terkena kanker, ASI lebih aman delapan kali lipat!.

  4. Menjaga dari penyakit sesak nafas dan masalah pendengaran.

  5. Menjaga dari penyakit mati mendadak (SIDS).

  6. Menjaga dari serangan kanker selama enam bulan pertama.

  7. Menjaga bayi dari keropos tulang

  8. Pemberian ASI alami akan menyebabkan kulit bayi lebih lembut, penglihatan lebih tajam.

  9. Air seni bayi yang meminum susu sapi jauh lebih busuk dari bayi yang meminum ASI.


Manfaat ASI bagi ibu:

  1. Penelitian di 30 negara menegaskan, ibu yang menyusui bayinya langsung lebih aman dari serangan

  2. Kanker payudara.

  3. Rahim mengembang 20 kali lipat dari aslinya selama hamil dan melahirkan. Pemberian ASI secara

  4. alami mampu mengembalikan rahim pada ukuran normalnya.

  5. Mencegah ibu dari penyakit kanker rahim.

  6. Membantu ibu mengurangi berat badanya dan mencegah kegemukan alias diet alami.

  7. Pemberian ASI merupakan obat penenang alami dan membantu ibu mudah terlelap.

Batuan Beku

Batuan beku atau igneous rock adalah batuan yang terbentuk dari proses pembekuan magma di bawah permukaan bumi atau hasil pembekuan lava di permukaan bumi. Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947), Takeda (1970), magma didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk secara alamiah, bertemperatur tinggi antara 1.500–2.5000C dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta terdapat pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile (air, CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan penyebab mobilitas magma, dan non-volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan beku.

Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi, maka mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa penghabluran. Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh NL. Bowen disusun suatu seri yang dikenal dengan Bowen’s Reaction Series.


A. Keutamaan Geologis


Hampir 95% batuan beku terbentuk di bagian atas kerak bumi, tapi kebanyakan dari mereka tersembunyi di balik permukaan bumi yang relatif tipis namun tersebar luas.

Secara geologis batuan beku penting karena :

  1. Mineral dan komposisi kimianya memberi petunjuk tentang komposisi mantel bumi.

  2. Umur absolutnya dapat diperoleh dari berbagai macam radiometric dating.

  3. Memiliki karakteristik lingkungan tektonik yang spesifik.

  4. Pada saat tertentu bisa menghasilkan mineral-mineral yang berharga.



B. Morfologi


1. Batuan Beku Intrusif


Batuan beku intrusif terbentuk dari magma yang membeku dan memadat di dalam bumi. Berawal dari batuan yang sudah ada sebelumnya, magma mendingin secara perlahan, dan menghasilkan batuan yang berbutir kasar (coarse grain). Mineral pada batuan ini secara jelas bisa diamati dengan mata telanjang. Batuan intrusif dapat juga diklasifikasikan menurut bentuk dan ukuran dari tubuh intrusif dan juga hubungan antar mineral. Contoh-contoh formasi intrusif adalah batholith, stock, laccolith, sills, dan dikes.


2. Batuan Beku Ekstrusif


Batuan beku ekstrusif terbentuk di permukaan bumi dari hasil pembekuan batuan. Hasil peleburan batuan dengan atau tanpa kristal dan gelembung gas dinamakan magma. Magma terangkat karena lebih lunak dari batuan yang membentuknya. Pada saat mencapai permukaan, magma berubah menjadi lava.

Volume dari batuan ekstrusif tiap tahun berubah terganung dari varietas lempeng tektoniknya. Batuan ekstrusif terbentuk di bagian-bagian berikut ini :


  1. Divergent boundary : 73%

  2. Convergent boundary (suduction zone) : 15%

  3. Hotspot : 12%


Magma yang mengalamai erupsi sering bersifat merusak, dengan pengelauaran gas-gas beracun – secara umum berupa karbondioksida ­. Secara eksplosif juga mengeluarkan material-material piroklastik yang dinamakan tefra, termasuk tuff, agglomerate, dan ignimbrite. Debu vulkanik juga bisa menyelimuti daerah di sekitar gunung berapi sehingga bisa mengaburkan pandangan.

Karena lava mendingin dan mengkristal secara cepat, jadi batuan ini memiliki butiran yang halus. Jika pendinginannya berlangsung dengan amat sangat cepat, sehingga menghasilkan kristal-kristal dalam ukuran yang sangat kecil, akan membentuk batuan yang berbentuk kaca (glass), seperti obsidian. Jika pendinginan berlangsung dengan lambat, maka akan menghasilkan batuan berbutir kasar.

Karena mineralnya kebanyakan berbutir halus, maka cukup sulit untuk membedakan berbagai varietas batuan ekstrusif. Kebanyakan mineral berbutir halus pada batuan ekstrusif hanya bisa dilihat dari mikroskop.


3. Batuan Beku Hypabyssal


Batuan beku hypabyssal terbentuk di antara batuan beku plutonik dan batuan beku vulkanik.


B. Sifat Fisik Batuan Beku


Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali mengetahui karakteristik batuan beku yang meliputi sifat fisik dan komposisi mineral batuan beku. Dalam membicarakan masalah sifat fisik batuan beku tidak akan lepas dari:


1. Tekstur


Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang erat antar mineral-mineral sebagai bagian dari batuan dan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa dasar dari batuan.

Tekstur pada batuan beku umumnya ditentukan oleh tiga hal yang penting, yaitu :



A. Kristalinitas

Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya berlangsung lambat maka kristalnya kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus, akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.

Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:

  1. Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh kristal.

  2. Tekstur holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat permukaan.

  3. Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal.

  4. Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. Tekstur holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies yang lebih kecil dari tubuh batuan.


B. Granularitas

Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:


1) Fanerik/fanerokristalin

Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan satu sama lain secara megaskopis dengan mata biasa. Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi:

  1. Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1 mm.

  2. Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1 – 5 mm.

  3. Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5 – 30 mm.

  4. Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir lebih dari 30 mm.


2) Afanitik

Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan dengan mata biasa sehingga diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal, gelas atau keduanya. Dalam analisa mikroskopis dapat dibedakan:

  1. Mikrokristalin, apabila mineral-mineral pada batuan beku bisa diamati dengan bantuan mikroskop dengan ukuran butiran sekitar 0,1 – 0,01 mm.

  2. Kriptokristalin, apabila mineral-mineral dalam batuan beku terlalu kecil untuk diamati meskipun dengan bantuan mikroskop. Ukuran butiran berkisar antara 0,01 – 0,002 mm.

  3. Amorf/glassy/hyaline, apabila batuan beku tersusun oleh gelas.


C. Bentuk Kristal


Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan secara keseluruhan. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:

  1. Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.

  2. Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi.

  3. Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.


Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu:


  1. Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya sama panjang.

  2. Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi

yang lain.

  1. Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi yang lain.

  2. Irregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.


D. Hubungan Antar Kristal


Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan sebagai hubungan antara kristal/mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Equigranular, yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya yang membentuk batuan berukuran sama besar. Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular dibagi menjadi tiga, yaitu:

  2. Panidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang euhedral.

  3. Hipidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang subhedral.

  4. Allotriomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang anhedral.

  5. Inequigranular, yaitu apabila ukuran butir kristalnya sebagai pembentuk batuan tidak sama besar. Mineral yang besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau matrik yang bisa berupa mineral atau gelas.


2. Struktur


Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang meliputi kedudukan lapisan yang jelas/umum dari lapisan batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat dilapangan saja, misalnya:

  1. Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti bantal.

  2. Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran.

Sedangkan struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh batuan (hand speciment sample), yaitu:

  1. Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak menunjukkan adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam dalam tubuh batuan beku.

  2. Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur.

  3. Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-lubangnya besar dan menunjukkan arah yang tidak teratur.

  4. Amigdaloidal, yaitu struktur dimana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat.

  5. Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan batuan lain yang masuk dalam batuan yang mengintrusi.


Pada umumnya batuan beku tanpa struktur (masif), sedangkan struktur-struktur yang ada pada batuan beku dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan pembekuan magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang), dan sheeting joint (kekar berlembar).


3. Komposisi Mineral

Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  1. Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit.

  2. Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin.


Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks warna. Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda meskipun dalam jenis batuan yang sama, menurut dasar klasifikasinya.

Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi:

  1. Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan.

  2. Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.

  3. Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi.

Oleh W.T. Huang (1962), jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik.

Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 (C.L. Hugnes, 1962), yaitu:

  1. Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah riolit.

  2. Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%. Contohnya adalah dasit.

  3. Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya adalah andesit.

  4. Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah basalt.

Klasifikasi berdasarkan indeks warna ( S.J. Shand, 1943), yaitu:

  1. Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.

  2. Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral mafik.

  3. Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik.

Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan beku berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut:

  1. Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%.

  2. Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%.

  3. Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%.

  4. Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%.

Geology English Paper


ENGLISH PAPER


Potentials of Volcanoes


The word volcano comes from the name of the island on the Mediterranean Sea. Mainly the volcanoes are formed by destructive and constructive margins.

A volcano can erupt many times during its lifetime of thousands of years. Material which is expelled during the eruption step by step builds up a volcano. The throat of the volcano is called the main vent; usually there is a crater at the top of the Main Vent. Volcanic eruptions can be described as explosive or quiet. When the magma is sticky and contains lots of gas than eruptions are likely to be explosive. Hot pieces, called pyroclastics are being thrown out during violent explosions. Heavier peaces land near the crater and start to build the cone shaped mountain, lighter peaces can be carried by wind hundred of kilometers away. If the magma is fluid and contains less gas it is when eruptions are quiet. Melted rock called lava runns out of the volcano and cools up on its slope. Non-constant eruptions of pyroclastics materials and lava build the mountain layer by layer. Three different types of materials may be expelled from an active volcano. These materials are lava, rocks (Volcanic bombs, lapilli, cinder, ash, dust) and gases. There are three types of volcanoes: Shield, Cinder and Composite volcano.


[ v o l c a n o e s : t h e a d v a n t a g e s ]


Volcanoes are helpful, too. Can you believe it? The rocks produced from volcanic pressure form most of the ocean floor and continents. Early volcanoes produced steam that later became the water that we cannot live without, as well as the oxygen we need to survive. Volcanic ash and lava also form rich soil, while hot rocks heat underground water. In some countries such as Iceland, it forms hot springs. Engineers are trapping the steam heated by volcanic rock to produce electricity or heat cities.

Although volcanoes are usually linked to death, destruction, and tragedy, they do have some often-overlooked benefits. In New Zealand, people often visit the hot mud baths of Raupehu. More than eight hundred wells exist in Rotorua, a popular spot for those seeking hot water baths, large community swimming pools, natural hot-water tubs, hot-water-heated rooms, and steaming hot springs. The medicinal and health benefits of such relaxing spas are also highly recommended.

Volcanic ash also serves as a natural resource for construction and industry. Lava and tuffs can be cut into blocks and used as stone for buildings. Tuff can be cut into blocks that are used for building. They have enough strength for high buildings, stone walls, are lightweight, resistant to weathering, and good insulators. Fine-grained volcanic ash is used as a polishing compound, and can be found in toothpaste and household scrubbing compounds. Concrete, too, was discovered by Romans who mixed granular volcanic ash with lime cement to create a new, water-resistant material with superior strength. It was this substance that allowed the Romans to build fantastic edifices, water works, aqueducts, roads, harbors, underwater structures, and lighthouses. It is still used in concrete constructions today.

Cinder cones have also been mined as a source of construction materials. Pumice was used by Mediterranean peoples as an exfoliant scrub and abrasive cleaner. Obsidian, a shiny black volcanic glass, has been fashioned into arrowheads and knives, traded, quarried, and even used in eye surgery. Volcanic ash is used as a filler in adhesives, ceramics, bread, and ice-milk products. Volcanic ash is also a major ingredient in cat litter because it easily absorbs moisture.

Volcanoes are also a great tourist attraction. Such monuments as Mount Vesuvius and Mount Fuji are awe-inspiring symbols for their respective nations. Vesuvius was an important destination for artists, writers, poets, and dignitaries. Today, the Hawaiian volcanoes are a great source of tourism.

Geothermal energy is a constant but often under-utilized source of electric power. Environmentally friendly and renewable, this water can be used for growing fish, fruits, and vegetables; drying foodstuffs; and heating residential and commercial buildings. In Iceland, geothermal waters are even piped to homes for bathing and food preparation.

New evidence has also emerged that volcanic areas can be prime petroleum sources. Geothermal systems can also serve an important part in petroleum generation, migration, and entrapment. Many oil-bearing seafloor sediments have been found near hydrothermal vents at midocean ridges. Shell Oil Company also found much oil in volcanic regions in Nevada in 1954, leading to the discovery that volcanic ignimbrites are excellent storage spots for oil pools.

High-energy geothermal systems are also some of the most efficient natural concentrators of valuable ore minerals. Some hot springs in Waiotapu, New Zealand, contain large amounts of gold. At another hot springs, mercury condenses from rising steam at the bathhouses. Many metals, like gold, silver, copper, molybdenum, lead, and zinc have been found beneath such springs.

Volcanoes also bring diamonds up from deep in the earth. Other precious gems, like the red beryl, or "red emerald" is even rarer than a diamond, but can be found in the Wah Wah Mountains in the United States.

Volcanic soils are also some of the richest on earth, providing lush farmland. The best coffees are also grown in volcanic soils in a tropical climate, between elevations of 1,400 and 1,700 meters. These conditions are most commonly found on young, active volcano slopes.

Volcanic rocks are rich in nutrients needed by plants. They are so rich, in fact, that they are considered as "hard" fertilizer. These rich soils encourage farming, agriculture, and population growth.

The constant fall of volcanic ash is also ideal for preserving surface conditions at the time of deposition. Able to bury things intact without moving, crushing, or burning them, volcanic rock is an excellent source for fossils.





Sources :

http://www.sciaga.pl/tekst/34518-35-volcanoes

http://library.thinkquest.org/C003603/english/volcanoes/theadvantages.shtml